Forum Penyelamatan Lut Tawar (FPLT) menghimbau kepada masyarakat sekitar Lut Tawar dan wisatawan yang berkunjung untuk tidak membuang sampah ke danau
LOGIN   |   REGISTER   |    FORGET PASSWORD

   
Minggu, 07 Juni 2009 , 14:00:00

   

Azagh | GAYOlinge 

Bener Meriah - Sulit diterima akal, sang Bandar ganja kelas Kakap yang melanglang buana hingga 26 provinsi di Indonesia dan pernah berpenghasilan hingga  milyaran rupiah perbulan serta mengisap ganja sampai 3 ons perhari ternyata insaf setelah dipercayakan masyarakat menjadi Imam, Keuchik dan Panitia Pembangunan Masjid.

Joni Andika, lebih dikenal dengan panggilan Adi Lokot atau Adi Cimeng di kampungnya di Wih Tenang Uken Kecamatan Permata Kabupaten Bener Meriah.

Tak terbetik sedikitpun di benak Joni untuk menjadi pemakai ganja sekaligus seorang bandar saat Joni berangkat ke Pulau Dewata Bali tepatnya ke Nusa Dua dari Dataran Tinggi Gayo ditahun 1991. Joni saat itu berusia 28 tahun ingin perbaiki masa depan diperantauan. Tapi kenyataannya, tak lebih dari seminggu, Joni berkenalan dengan seorang bandar ganja dan tawarkan pekerjaan dengan penghasilan sangat menggiurkan. Dengan datangkan 1 kg saja benda haram tersebut dari Aceh tepatnya dari Belang Kejeren. Joni akan dapat kocek hingga 2 juta rupiah.

Tahun 1991 mulai kenal ganja. Kemudian masuk kedalam jaringan narkoba Indonesia dan melanglang buana hingga 26 provinsi kecuali Irian Jaya. Ditahun 2000, Joni tidak lagi keluar dari Provinsi Aceh. Joni hanya sebagai penyedia barang dan bandar ganja yang langsung datang untuk mengambil ke Aceh. Saat itu, semua kegiatan perdagangan ganja dia kendalikan dari buntul Kemumu Bener Meriah. Karena pergaulannya yang dinilai baik oleh masyarakat, tahun 2001, warga Wih Tenang Uken Kecamatan Permata mengangkat Joni menjadi Imam dan Panitia Pembangunan Masjid Ruhul Iman yang awalnya dimotori pasukan TNI Zifur 8 saat itu.

Joni mengaku sering ditantang oleh warganya dalam jalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. “Tak mungkin kamu dapat laksanakan tugasmu dengan baik. Kata sebagian warga kepada saya,” kenang Joni. Tantangan tersebut ternyata menjadi cambuk sekaligus obat bagi Joni untuk buktikan kemampuannya selesai tugas yang percayakan warga kepadanya.

Sejak saat itu, Joni sadar, ganja tidak ada gunanya dan hanya kesenangan sesaat. “Saya berterima kasih kepada masyarakat yang telah menyadarkan saya setelah dipercayakan menjadi panutan sebagai Imam dan Ketua Pembangunan Masjid selama 2 periode,” kata Joni.

Saat konflik Aceh berkecamuk sedemikian hebatnya, selaku warga yang dianggap sebagai tokoh masyarakat, Joni selalu berusaha untuk redam terjadi tidak kekerasan dikampungnya dengan bangun komunikasi dengan aparat keamanan agar fahami kondisi masyarakat saat itu. “Kepada pihak aparat saya minta untuk tidak langsung berhadapan dengan masyarakat jika butuh sesuatu. Dan biasanya, saya yang langsung tangani sendiri,” kata Joni.

“Walau saya banyak uang saat itu, ternyata uang ganja tidak diterima untuk kemaslahatan keagamaan. Saya berpikir, untuk apa lagi cari uang dari ganja kalau haram dipakai sebagai ibadah,” papar Joni.

Pengakuan Joni, saat masih kecanduan ganja, dia butuh 1 hingga 3 ons ganja perharinya dan seperti kebingungan jika tidak dapat ganja dalam sehari saja. Saya ingin darah saya bersih dari ganja. Bayangkan saja, 1 ons perhari, kalau 9 tahun, sudah berapa kilogram ganja yang saya hisap, ” ungkap Joni dengan nada sedih.

“Banyak yang ingatkan saya untuk berhenti sebagai pemakai dan bandar ganja termasuk dari istri saya. Tetapi tidak pernah saya gubris. Kesadaran bisa muncul dari diri sendiri,” kata Joni.

Menurut Joni, saat itu ganja yang beredar di Bali umumnya berasal dari Aceh dan sedikit dari tempat-tempat lain di Sumatera juga dari luar negeri seperti Thailand. “Ganja Aceh terkenal keasliannya terutama ganja dari Belang Kejeren,” kata Joni.

Diterangkan Joni, ganja punya dua kelas, kelas 1 disebut “Lose” yakni ganja yang tidak berbiji dengan kisaran harga sampai 3,5 juta rupiah perkilogramnya. Kemudian ganja yang mengadung biji dan merupakan kelas 2, biasa dinilai 1,5 juta rupiah tiap kilogramnya.

“penghasilan sebagai Bandar Ganja sangat menjanjikan. Pernah sekali jalan saat antarkan 1 ton ganja sampai ke Medan, saya dapat hingga 1 milyar. Tapi karena uang haram, uang saya hilang begitu saja tanpa beri manfaat sedikitpun bagi saya dan keluarga,” papar Joni.

Dalam jalankan pekerjaan sebagai Bandar narkoba, Joni mengaku tidak pakai jaringan dari unsur Polri atau TNI. Joni mengaku tidak pernah diincar oleh aparat. “Tahun 2000, saya pernah  berterus terang kepada polisi yang menstop saya di Tanjung Pura Sumatera Utara bahwa yang saya bawa dalam mobil Panther Mini Bus adalah ganja. Akan tetapi polisi tersebut tidak percaya dan justru mempersilahkan saya lewat begitu saja. Dan itu merupakan pengalaman terakhir bagi saya sebagai Bandar ganja,” kenang Joni yang mengaku jalur Belang Kejeren, Takengon, Bireuen jauh lebih aman untuk antarkan ganja ke Medan dibanding jalur Belang Kejeren, Kuta Cane dan Berastagi.

Selaku seorang Bandar, Joni mengaku tidak pernah memberi atau menjual ganja kepada anak-anak muda. “Saya tidak pernah mengecer ganja kepada pemakai ganja. Saya pakai sendiri ganja dan saya pasok keluar,” kata Joni menegaskan dan mengakui bahwa selama ini umumnya yang tertangkap polisi adalah ditingkat pemakai dan pengecer.

“Dalam memasok ganja, kita butuh jaringan. Tanpa jaringan, tak mungkin bisa berbisnis ganja. Bisnis haram ini tidak bisa dijalankan dengan sembrono. Perencanaannya harus matang dan setiap pelakunya harus faham dan laksanakan kode etik sendiri atau aturan mainnya kalau tidak mau gagal, celaka atau tertangkap aparat,” jelas Joni yang mengaku selalu terima uang kontan saat transaksi.

Pengakuan Joni, saat konplik Aceh, lebih sulit bisnis kopi daripada bisnis ganja dan dalam jalankan profesinya memasok ganja dari provinsi ke provinsi, Joni selalu gunakan mobil sewaan atau dengan bus. “Dalam memasok ganja hingga ke Bali, sampai ke Medan barang-barang tersebut saya bawa sendiri. Seterusnya saya titip melalui jaringan dan saya terima kembali di Bali untuk kemudian transaksi dengan Bandar lainnya.” ungkap Joni yang mengaku percaya bahwa peran magij sangat mendukung dalam keberhasilan usaha ganja.

“Dengan olah magij, ganja bisa terlihat dalam bentuk lagi bagi yang melihatnya dan biasanya terlihat berupa sayuran. Ini pengalaman saya saat bawa ganja dari Medan ke Jakarta,” kata Joni sambil tertawa dan mengaku tak pernah punya rasa takut saat beraksi. “Sekarang saya sangat penakut apalagi untuk berbuat salah,”ungkap Joni.

Dalam proses transaksi ganja baik dari petani dan kemudian diteruskan ke pemasok selanjutnya, Joni mengaku tidak pernah dengan cara transfer. “Tak ada istilah transfer ke rekening dalam bisnis ganja. Ada uang ada barang. Persis seperti dalam film-film mafia atau sindikat narkoba,” ungkap Joni. Akan tetapi sekali waktu, Joni pernah merugi hingga hingga 80 juta akibat 3 ton ganja pasokannya tertangkap dipenyeberangan ke pulau Jawa.

Tahun 1999, saat Joni akan berbisnis ganja dari Bali ke Irian Jaya, Joni menerima sepucuk surat bahwa orangtuanya sakit keras. Joni putuskan untuk pulang kampung. Kurun waktu sekitar 3 tahun, Joni jalankan bisnis haramnya dari kampung halamannya.

Kemudian tahun 2002 memulai usaha dengan menjual rumah senilai 6 juta rupiah sebagai modal. Saat itu orang-orang mengatakan bahwa Joni sudah gila. Untuk tempat berteduh bagi keluarganya, Joni kemudian membangun gubuk ukuran 4 X 4 meter berbahan rumbia.

“Saat itu uang saya banyak simpanan dari hasil ganja. Tapi saya tidak pakai sepeserpun karena saya anggap uang itu tidak halal dan tidak berkah untuk kehidupan,” tutur Joni yang mengaku selalu diberi berkah keberhasilan bila bercocok tanam tanaman hortikultura seperti cabe, kentang dan kol.

Dari hasil jerih payahnya sekitar 3 tahun, Joni kemudian membeli kebun kopi seluas 3 hektar, beli mobil, membuat kolam ikan beberapa petak, bangun rumah dan menutupi biaya pendidikan anak-anaknya.

Sebenarnya, dalam memulai usahanya setelah berhenti berbisnis ganja bisa saja meminjam uang dari teman-teman dan keluarganya. Akan tetapi Joni lebih memilih menjual rumah dan tidak tergantung kepada siapapun dalam masa pertaubatannya. “Prinsipnya, saya harus mulai dari nol tanpa bantuan orang lain untuk bangkit kembali,” tegas Joni.

Menurut rekan Joni di Balai Syura, Tanwir, rumah Joni saat ini sudah sekelas dengan rumah pejabat setingkat camat yang dibangun dari pertanian selama tidak lebih dari 3 tahun.

Tak tanggung-tanggung, sebagai pecandu ganja, Joni butuh 3 ons ganja perhari.  Menurut Joni, Ganja Belang Kejeren merupakan yang terbaik kualitas di seluruh dunia dan paling dicari pemakai diseluruh dunia.

Setelah berhenti sebagai pemasok ganja, tahun 2003 Joni diberi kesempatan untuk ikuti pelatihan dari Dinas Sosial Aceh Tengah Budi Daya Ikan Air Tawar di Bandar lampung dan Sukabumi selama 20 hari dan sejak itu Joni menekuni bidang perikanan air tawar sebagai sumber penghasilan disamping berkebun kopi dan bercocok tanam hortikultura.

Karena ketekunannya dalam berusaha dan memperdalam pengetahuannya dalam bidang perikanan, akhir tahun 2008 lalu, sebuah NGO local, Balai Syura yang merupakan local partner IOM di Bener Meriah bergerak dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat member sinyal kepada Joni menjadi staf ahli dalam bidang perikanan.

Saat ini Balai Syura sedang jalankan program pemberdayaan ekonomi di Kampung Pondok Gajah Bener Meriah berupa budidaya Lele Sangkuriang. Sebuah model usaha peningkatan perekonomian dengan memanfaatkan lahan sempit.

Ketertarikan Joni menekuni bidang perikanan dikarenakan perasaan miris dengan tidak dimanfaatkannya potensi pengembangan perikanan di Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Aceh Tengah dan Bener Meriah harus kurangi ketergantungan ikan dari pesisir karena rata-rata masyarakat Gayo perKKnya harus keluarkan uang 20 ribu Rupiah perhari dan dalam setahunnya mencapai 7 juta untuk beli ikan saja, belum lagi untuk keperluan lain,” ungkap Joni.

“Potensi alam di Gayo sangat bagus untuk budi daya perikanan air tawar dan kita harus upayakan pengembangannya untuk penghematan biaya keluarga sekaligus sebagai salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat,” ujar Joni.

Joni yang beristrikan Siti Sarah (34) dengan 4 orang putra-putri mengaku peran istri dan putri sulungnya, Santri Nofia yang kini telah duduk di bangku SMA kelas I di SMA Bandar saat masih kelas VI SD sedikit banyaknya berperan dalam menyadarkan Joni sebagai pemasok ganja. “Putri sulung saya sering ingatkan dan sindir saya dengan lemah lembut untuk hentikan perilaku saya yang rusakkan moral bangsa,” kata Joni kelahiran 1968 ini.

Kepada Pemerintah, Joni berharap agar diciptakan peluang kerja seluas-luasnya agar generasi muda tidak menjadi pengangguran dan terjerumus keperilaku negatif seperti menjadi pengguna narkoba. “Dengan berantas pengangguran dengan membuka peluang kerja sangat mendukung upaya pemberantasan narkoba. Umumnya pengangguran adalah pengguna narkoba,” papar Joni.

Joni yang pernah menjabat sebagai Keuchik di tahun 2003 sampai 2005 mengaku bisa kenali orang yang pemakai ganja. Menurut Joni, ciri-ciri pecandu ganja antara lain malas bekerja, dari pisik dapat kita lihat dari mata yang sayu. “yang pasti pecandu ganja tanda-tandanya pasti takut sama polisi,” kata Joni tertawa lebar.

Dalam pemberantasan narkoba, Joni berpendapat bahwa peran orang tua dan lembaga pendidikan beserta perangkatnya sangat penting. “Guru harus mengontrol anak didiknya, terutama dijenjang SMP dan SMA. Anak sekolah sekarang umumnya sudah merokok. Merokok adalah pintu gerbang masuk ke dunia narkoba khususnya ganja,” kata Joni berharap.

Pendapat Joni, seorang pengisap ganja selalu dimulai dengan kecanduan rokok. “Amatan saya di Gayo ini, dari 10 orang anak sekolah, 6 orang sudah kenal rokok. Artinya persepuluh anak ada 6 yang kemungkinan akan menjadi pecandu ganja. Akan jadi apa generasi kita nanti,” rinci Joni.

“Kepada masyarakat sering saya katakan tidak ada manfaatnya menghisap ganja,” kata Joni, sosok yang dikenal darmawan. Kepada anak muda, Joni berpesan agar menjaga pergaulan jangan sampai bergaul bebas dan umumnya di masyarakat kita saat ini pendidikan agama sudah sangat kurang di lingkungan keluarga.

Menyangkut upaya peningkatan ekonomi masyarakat Aceh umumnya, Joni menegaskan bahwa syarat utamanya adalah keamanan. “Aman adalah kunci perekonomian, baik di Gayo maupun di kawasan pesisir harus senantiasa aman.” tegas Joni.

Joni menilai saat ini masyarakat sedang menanti hasil panen kopi dari kebun-kebun yang digarap kembali setelah tercapai MoU RI dan GAM. “Masyarakat sudah kerjakan aktifitasnya seperti saat sebelum konflik. Bila kekacauan kembali terjadi, saya tak bisa bayangkan bagaimana perasaan mereka,” kata Joni.

Rasa penyesalan atas dosa masa silam selalu membayangi kehidupan Joni. “saya pasrahkan kepada Yang Kuasa semoga dosa saya diampuni. Cukup saya yang alami,” pungkas Joni lirih.

 

 
Nopia Dorsain Minggu, 07 Juni 2009 , 14:09:10
Saya bangga punya saudara seperti Joni, semoga Allah SWT mengampuni dosa joni yang telah lalu. Selanjutnya saya juga menghimbau, jika Joni seorang anak desa yang pengalamannya sudah nasional, bisa SADAR, mengapa yang lain tak pernah sadar, kita apakan generasi kita ini...?
 
(1) Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
     W3J4Q