Ceruk Mendale, dalam istilah Antropologi disebut Rock Shelter. Tapi menurut Lucas Partanda Koestoro DEA, Ketua Balai Arkeologi Medan lebih popular didunia dengan sebutan bahasa Francis, Abris Sous Roches.
Abris Sous Roches Mendale terbukti pernah dihuni manusia pra sejarah dari jaman neolitik 3500 tahun lalu. Buktinya, ditemukan batu kapak persegi oleh Balai Arkeologi Medan (Balar), 11 Maret 2009.
Absolut, manusia pra sejarah pernah hidup lama di lokasi Abris Sous Roches Mendale. Drs. Ketut Wiradnyana, ahli prasejarah , ketua tim eskavasi (penggalian) di ceruk Mendale dengan melibatkan 15 orang antropolog Balar Medan, awal Maret 2009, mengatakan, sejarah Indonesia harus direposisi dengan penemuan fakta sejarah di Ceruk Mendale.
Apalagi, kata Ketut, penemuan Batu Kapak Persegi di Mendale, diklaim sebagai penemuan batu kapak pertama di Sumatera. Monumental. Ketut Wiradnyana, jebolan Universitas Udayana Bali, jurusan Antropologi dan dikenal ahli soal pra sejarah dan Nias, saat melakukan eskavasi di Abris Sous Roches Mendale, menyesalkan dan bahkan kuatir, bagian Ceruk Mendale yang memanjang dari Timur ke Barat persis di Samping Jalan Mendale- Bintang, sepanjang kurang dari 100 meter, sebagian sudah dikeruk dengan Buldozer dan tanah Ceruk dijadikan tanah timbun. Menyedihkan, sebut Ketut kecewa sebagai Antropolog.
Di bekas kerukan bagian ceruk yang tanahnya sebagian dibuang ke jalan samping ceruk yang becek, tampak fragmen (potongan ) gerabah. Peninggalan jaman pra sejarah penghuni ceruk dari zaman neolitik. Di Zaman ini, manusia sudah mengenal gerabah yang terbuat dari tanah liat.
Dari bekas bagian ceruk yang dibuldozer, tampak pada tanah bekas-bekas adanya lapisan budaya. Artinya, ada bagian tanah ceruk pada lapisan tertentu menghitam karena dipakai memasak. Ada juga lapisan abu yang ditandai dengan warna layaknya abu.
Bagian Ceruk Dibuldozer dengan alat berat bisa dipahami dan diterima akal nasi akibat ketidaktahuan. Tapi , empat bulan setelah kepergian peneliti Balar Medan, LSM Vistaga Takengon, di awal Juni 2009, melihat bagian ceruk masih dikeruk lagi untuk tanah timbun.
Potongan gerabah dan tulang berserak disana. Bahkan sebelumnya, LSM vistaga menemukan batu mirip batu kapak yang ditemukan Balar Medan yang kini diamankan Vistaga. Menyedihkan.
Padahal setelah menemukan Batu Kapak Persegi di Abris Sous Roches Mendale, Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin MM, bersama tim Humas, sempat menyaksikan penemuan paling spektakuler sepanjang sejarah Kabupaten Aceh Tengah di Ceruk Mendale, kemudian sebelum pulang ke Medan, peneliti Balar Medan sempat dijamu makan pagi oleh bupati di Pendopo.
Pada kesempatan makan pagi dengan orang nomor satu di Kabupaten Aceh Tengah itu, baik Lucas dan Ketut menyampaikan pentingnya penemuan Batu Kapak Persegi di Ceruk Mendale bagi Antropologi dunia.
Penemuan dari jaman prasejarah itu akan sangat berarti bagi kabupaten Aceh Tengah. Pentingnya karena ternyata di Mendale sudah ada kehidupan di jaman pra sejarah. Hal ini, kata Ketut modal besar bila dikelola dengan baik dan benar.
“Penemuan jaman pra sejarah di Ceruk Mendale adalah modal wisata bagi Takengon. Itu daya tarik bagi turis dunia. Jika kemudian para turis dapat melihat indahnya Dataran Tinggi Gayo dengan Danau Lauttawarnya, itu hanya bonus saja. Daya tarik utama, adalah situs pra sejarahnya”, terang Ketut.
Tapi setelah Ketut dan peneliti Balar pulang, Ceruk Mendale malah tidak menjadikan Pemda Aceh Tengah mereposisi visi dan misi Kabupaten terhadap sector wisata. Ceruk Mendale tidak dijadikan Pemda asset yang harus dijaga , dilindungi dan dijadikan modal bagi wisata Aceh Tengah.
Pemda tidak lantas membuat kebijakan baru dengan menjadikan Ceruk Mendale kawasan yang dilindungi. Malah dibiarkan begitu saja. Lebih parah lagi, bagian ceruk dikeruk dan dijadikan tanah timbun…..!.
Saat komunitas Vistaga berkunjung kesana, awal Juni 2009, bekas kerukan di bagian jaman pra sejarah Mend ale dengan sembarangan dikeruk alat berat. Fragmen gerabah berserakan. Begitu juga lapisan budaya pada tanah.
Penemuan Ceruk Mendale yang telah membuka fakta sejarah jaman pra sejarah di Aceh Tengah, minimal 3500 tahun lalu, menurut Lucas dan Ketut, bukan terjadi begitu saja. Di tahun 2007, tim Balar Medan sudah melakukan observasi, analisis ,survey.
Hasilnya, Ceruk Mendale, Loyang Puteri Pukes dan Loyang Datu di Kecamatan Linge, “dicurigai” atau istilah lainnya Prospek untuk diteliti lanjut karena diduga jadi tempat hunian jaman purbakala.
Ketajaman naluri dan ilmu Antropolog yang dimiliki para peneliti Balar Medan, kemudian terbukti. Selama sepekan, dari Tanggal 6 – 13 Maret 2009, Balar Medan melakukan eksavasi. Penemuan di Ceruk Mendale, bukan saja batu kapak persegi. Tapi juga tulang manusia dibawah batu. Tulang tersebut ditemukan di bagian paling Barat Abris Sous Roches Mendale. Berupa tulang kaki hingga paha. Penemuan tersebut pada kandang kerbau warga Mendale yang menjadikan Ceruk sebagai kandang kerbau.
Tapi eksavasi kemudian berhenti hingga penemuan tulang paha. Alasannya Balar karena limit waktu penelitian sudah habis. Juga dana penelitian. Menurut Lucas, Balai Arkeologi Medan membawahi lima provinsi di Sumatera. Sehingga setiap tahapan penelitian harus diusulkan terlebih dahulu jauh hari. ‘Barulah setelah ada dana pemerintah, penelitian dilakukan. Tapi berapalah dana pemerintah mengingat jumlah provinsi penelitian ada lima”, kata Lucas.
Menurut Lucas, ada Pemda yang pro aktip dan meminta Balar melakukan penelitian pra sejarah dengan menggunakan APBK. Seperti dilakukan Pemda Tanjung Pinang. Setelah dipastikan adanya kehidupan pra sejarah di Tanjung Pinang tersebut yang ditandai dengan penemuan batu khas Sumateralit, Pemda setempat kemudian melindunginya dengan Perda dan kemudian mengelolanya menjadi wisata sejarah. Hasilnya, turis asing asal Singapura, membanjiri Kepri melihat situs sejarah karena dianggap sangat menarik.
Sebelum penemuan kehidupan pra sejarah di Dataran Tinggi Gayo di Abris Sous Roches Mendale, Balar Medan juga sudah menemukan kehidupan pra sejarah di Tamiangvyang berusia 7000 tahun lalu, tepatnya 7080 M, dari kebudayaan Hoabinh.
Setelah penemuan beberapa benda prasejarah di Mendale, seperti, batu kapak persegi, bagian tulang, fragmen gerabah dengan dua bentuk, Fragmen tulang, kerang dan sejumlah benda lainnya, menurut peneliti Balar, guna memastikan umur dari semua temuan ini, ada cara paling efektif yang biasa dilakukan antropolog, yaitu analisa karbon.
Analisa karbon dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (Batan). Untuk itu, satu bagian benda yang diteliti Batan, membutuhkan biaya tidak kurang dari Rp. 10 juta. “Kalau Pemda mau tahu umur bagian temuan di Ceruk Mendale, Pemda diharap mau membiayai analisa karbon. Karena kalau menunggu Balar yang melakukan analisa karbon, waktunya bisa lama karena harus diusul dulu”, kata Ketut berharap Pemda Aceh Tengah pro aktip menggali sejarah daerahnya.
Tapi apakah Pemda Aceh Tengah akan mau?. Sepertinya sulit. Jangankan analisa karbon, pedulipun tidak terhadap situs sejarah Ceruk Mendale yang dibiarkan begitu saja tanahnya dikeruk dan dijadikan tanah timbun.
Setelah ditemukannya fakta sejarah berasal dari 3500 tahun lalu di Mendale, ternyata tidak mampu menggugah Pemda menggunakan kekuatan ilmu, akal, dana APBK dan waktu untuk menjadikan Ceruk Mendale bagian penting sejarah Aceh Tengah untuk dijadikan pusat penelitian, situs, tujuan wisata untuk generasi mendatang.
Lantas apa visi dan misi kabupaten Aceh Tengah yang kaya akan SDA, adat dan budaya, namun SDMnya tidak mampu membaca fakta sejarah ilmiah dari ceruk Mendale dan membiarkannya hancur.
Generasi Gayo berikutnya tentu akan menyalahkan sistim dan pemerintahan serta pemimpin saat ini karena menapikan sejarah yang ditemukan setelah 3500 tahun , kemudian menapikannya akibat ketidakpedulian, kebodohan dan entah karena alasan politis…sungguh sangat naïf